|
Judul
|
Corporate Social
Responsibility Sebagai Strategi
Komunikasi Bisnis Perusahaan (study kasus PT ABC)
|
|
Jurnal
|
Jurnal Komunikasi Bisnis ASPIKOM
|
|
Volume & Halaman
|
Vol. 2, No.5 Hal 346-356
|
|
Tahun
|
2015
|
|
Penulis
|
Marselinus Nuba Sabini dan
Leila Mona Ganiem
|
|
Reviewer
|
Nurbani Hawa
|
|
Tanggal
|
29 Desember 2017
|
|
Latar Belakang Penelitian
|
Usaha di
bidang pertambangan sering mengalami penolakan dari komunitas sekitarnya. Masyarakat
sangat reaktif terhadap perusahaan tambang yang berinvestasi di daerahnya. Menurut
Prayogo (2004: 47), ada beberapa faktor utama penolakan warga. Pertama,
pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) tidak transparan. Sejak diberlakukannya
otonomi daerah, IUP menjadi hak Kepala Daerah. Wewenang yang dimiliki sering
dimanfaatkan untuk kepentingan politik seperti bantuan biaya untuk Pilkada.
Industri pertambangan pada dasarnya bermanfaat bagi masyarakat dan pertumbuhan
ekonomi nasional, antara lain ; (1) Menciptakan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat, (2)Hasil produksi tambang dapat digunakan untuk memenuhi
permintaan pasar domestik maupun pasar internasional, sehingga hasil ekspor
tambang tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi negara.
PT ABC merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan
tembaga di wilayah Jawa Timur bagian utara. Sejak berdiri tahun 2012, PT ABC sudah
menjalankan program Corporate Social
Responsibilty (CSR) untuk membangun situasi yang kondusif di lingkungan
sekitar. Banyak program yang dilakukan CSR PT. ABC untuk membangun citra positif
namun penolakkan terhadap aktivitas pertambangan tetap ada. Kelompok penolak
masih memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap perusahaan. Kelompok penolak
menilai ada hubungan ekonomi politik antara pengusaha PT. ABC dengan
pengusaha yang mengakibatkan kerugian ekonomi dan sosial bagi masyarakat
lokal.
|
|
Metodologi Penelitian
|
Penelitian ini
menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan metode studi
kasus. Penelitian deskriptif bersifat pemberian, artinya mencatat secara
teliti segala gejala (fenomena) yang dilihat dan didengar serta dibacanya
(melalui wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi, catatan
atau memo, dokumen resmi, tidak sresmi, dan lain-lain. Teknik pengumpulan
data primer dilakukan dengan cara wawancara yang dilakukan secara langsung
dan mendalam dengan narasumber penanggungjawab program CSR, Humas PT. ABC,
dan masyarakat penolak tambang. Data primer berupa pemahaman masyarakat
penolak tambang dan perusahaan PT. ABC mengenai program CSR yang dilakukan,
apakah tepat sasaran atau belum.
|
|
Hasil Penelitian
|
Hasil penelitian menunjukkan
PT.ABC sudah menjalankan program CSR, melalui program pemberdayaan masyarakat,
pendidikan, kesehatan, dan perbaikan infrastruktur. Kendati demikian,
penolakan masih tetap ada. Beberapa faktor penyebabnya adalah program masih
terbatas pada kelompok tertentu, penyerapan tenaga kerja masih terbatas, kecenderungan
korporasi untuk tertutup terhadap beberapa isu sensitif, seperti perolehan
IUP, penambangan liar dan kerusakan lingkungan. Selain itu, kendala yang
dihadapi adalah korporasi kurang berkomunikasi secara terbuka dengan kelompok
penolak, program CSR masih terbatas pada beberapa kelompok, keterbatasan
kompetensi berkomunikasi karyawan CSR terkait tambang, serta adanya
kepentingan pribadi dari kelompok penolak dengan memanfaatkan isu tambang.
Sejauh ini, sikap penolakan masyarakat sangat dinamis, ada beberapa tokoh yang
sebelumnya menolak, akhirnya mendukung tambang karena aspirasinya diakomodasi
oleh PT. ABC. Banyak masyarakat yang konsisten untuk tetap menolak karena
masih menilai bahwa PT. ABC belum memberi banyak manfaat untuk warga sekitar
tambang.
|
Sumber : http://www.ejurnal.com/2016/04/corporate-social-responsibility-sebagai.html?m=1