Selasa, 30 Desember 2014

IBD Tulisan Bebas Membuat Bunga Mawar Dari Kertas Krep

Bahan-bahan yang diperlukan:
• Kertas krep warna buat kelopak bunga; kuning, pink, oranye, biru, merah, puti, ungu, dsb. Atau pilih sesuai seleramu.
• Kertas krep warna daun (Bisa ijo muda, ijo tua, yang penting ijo)
• Plastik parsel
• Lidi (25 cm)
• Lem kertas
• Benang jahit
• Isolatip
Udah siap semua?
Cara membuat:
1. Gunting kertas krep untuk bunga kurlep 5 cm dan kertas krep buat batang 1 cm
2. Lebarkan bagian guntingan itu, trus bagi jadi 3 bagian
3. Balurkan ujung krep dengan lem, balutkan ke lidi
4. Lilitkan kertas krep secara perlahan dan teliti menyelimuliti lidi (ini merupakan bagian terpenting dalam pembuatan kerajinan tangan bunga mawar. Awalnya, buat lingkaran yang diameternya kecil. Makin diputer & dililit buat diameter nya makin lebar. Rapatkan bagian bawah kertas krep dengan tangan secara perlahan, otomatis bagian tengah ama atas kertas krep akan skeliatan mekar dan membentuk seperti bunga, teruskan lilitan sampai ujungnya abis.)
5. Lilitkan bagian bawah kertas krep dengan benang agar bentuk bunga tidak berubah (gak perlu diikat) terus dilem
6. Mulai ujung bawah krep bunga lilitkan secara perlahan kertas krep warna hijau menyelimuti seluruh lidi
7. Lilitkan krep hijau hingga ujung lidi, lalu bubuhi lem (yang perlu-perlu aja, ya. Selain ngirit lem juga supaya kertas nggak luntur karena kebanyakan lem)
8. Selanjutnya bikin plastik pembungkus, gunting plastik parsel berbentuk segitiga siku2. Buat seperti bungkus kacang disatukan kedua sisi panjang dengan isolatip.
9. Satukan dengan rangkain bunga yang sudah jadi.
10. Isolatip bagian bawah plastik parsel dengan lidi.

Sabtu, 27 Desember 2014

IBD Tulisan Bebas Cerpen 1

Tugas IBD rpen 1
Nama : Nurbani Hawa
Npm : 18214207 

SIAPA PENDAMPING LANGIT
“Bu, aku berangkat sekolah dulu yaa” pamit Langit pada ibunya
“Ya nak, hati-hati yaa” ujar sang ibu dari dalam dapur Langit bergegas mengambil tasnya dan meninggalkan rumah. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup aroma embun yang khas dan menenangkan. ‘Semangat’ batinnya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk SMU. Langit segera menghampiri supirnya yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pos satpam "Mang Ujang ayo berangkat” ujarnya
“Siap non” Mang ujang kemudian segera menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk Langit. Kemudian mereka pun melaju pergi menuju SMU Cahaya
Sepanjang perjalanan Langit terus tersenyum dan memandang kea arah luar. 
“Non kelihatannya hari ini semangat sekali” ujar Mang Ujang Langit tertawa kecil “Iya dong Mang kita harus semangat setiap hari. Mang ujang juga semangat!” Tak beberapa lama akhirnya mereka sudah sampai di SMU Cahaya.
“Makasih yaa mang, aku masuk dulu ya. Nanti aku telepon jam berapa mamang jemput aku” ujar Langit yang diiringi dengan anggukan dari Mang Ujang. Langit pun segera berlari menuju lapangan.
“X IPA 3, X IPA 3 mana yaa?” ujar Langit dalam hati. Matanya terus menerawang satu persatu tulisan yang ada di papan yang dipegang para seniornya. BRUG! Tanpa sadar Langit menabrak seseorang. Tubuh mungilnya jatuh terduduk
“Sorry sorry, lo ga apa-apa kan?” tanya orang yang menabrak Langit sambil membantu langit berdiri Langit merapikan seragamnya “Iya ga apa-apa kok” ujarnya. Langit kemudian menatap orang itu ‘Wah cowok manis’ gumamnya dalam hati
“Kenalin, nama gue Awan. Gue murid baru disini” ujarnya sambil mengulurkan tangannya Langit menyambut uluran tangan itu
“Nama gue Langit. Gue juga murid baru disini” Awan membelalakkan matanya “Serius nama lo Langit?” tanyanya. Langit mengangguk. “Wah jangan jangan kita jodoh. Awan kan adanya cumad i langit hahaha”. Langit pun seketika menjadi tersipu malu. Baru kali ini ada cowok yang berkata langsung seperti itu padanya.
“Ehiya, lo kelas berapa?” tanya Awan
“Kelas X IPA 3” jawab Langit Lagi-lagi Awan membelalakkan matanya “Serius? Gue juga di kelas itu. Ah kita emang jodoh nih kayaknya. Yuk barengan sama gue” Awan pun menggandeng tangan Langit dan membawanya pada barisan kelas X IPA 3
“Nah, lo baris disini dan gue baris disamping lo” ujar Awan Langit mengangguk. Kemudian ia melirik ke bawah. 
“Kenapa?” tanya Awan, ia pun ikut melirik ke bawah dan “Ups sorry” ujarnya. Awan segera melepaskan genggaman tangannya setelah disadarinya tangannya masih menggenggam erat tangan Langit.
Langit mulai gelisah, rupanya pengarahan hari ini jauh lebih lama
dari perkiraannya. Air keringat sudah bercucuran dari wajah dan tubuhnya.
Matahari tepat sekali menyorot dirinya dari sisi kanannya. Langit menggigit
bibirnya dan terus menunduk. Namun tiba-tiba ia merasakan sejuk. Seperti
ada yang menghalau sinar matahari
agar tak langsung mengenainya. Langit
mengangkat kepalanya perlahan. Menengok pada sosok yang sedang
menghalau sinar matahari itu untuknya. “Awan!” jeritnya dalam hati. Awan menyunggingkan senyum manisnya. “Tenang aja, mataharinya udah
ketutupan sama ‘awan’ kok” ujarnya.  langit masih terus menatap Awan.
Sosok awan yang diterpa cahaya matahari itu membuatnya menjadi semakin berkilau di mata Langit. Tubuh tinggi Awan yang melindungi tubuh Langit yang mungil. Detik itu juga Langit memutuskan untuk terus bersama Awan
apapun keadaannya.
“Astaga jadi udah hampir tiga tahun dong elo mendem perasaan sama Awan?” tanya Vania setelah mendengarkan dengan seksama cerita
Langit saat pertama kali bertemu awan
Langit mengangguk dan menghela nafas “Ga kerasa ya?”
“Kenapa lo gamau coba buat nyatain perasaan lo itu?” tanya Vania Langit menggelengkan kepalanya “Awan udah ada yang punya Van, dan bagi gue asalkan bisa terus bersamanya dan terus melihat senyumnya itu udah cukup kok”
“Sekalipun lo harus berurai air mata?” tanya Vania
“Kalian itu cocok loh. Jujur aja dulu tuh gue kira kalian pacaran tau. Nama kalian aja udah saring melengkapi gitu, Langit dan Awan. Hobi kalian sama, makanan
kesukaan sama, hal yang lo suka juga Awan suka dan hal yang Awan ga suka lo pun ga suka. Pokoknya banyak kesamaan dan kecocokkan kalian
deh” ujar Vania Langit menghela nafasnya 
“Banyak kesamaan dan kecocokkan ga menjamin kalau kita bisa bersatu. Cinta bukan hanya sekedar ‘kita punya banyak kesamaan lalu kita bisa bersama’ ga semudah itu. Karena pada akhirnya tetap hati juga lah yang memainkan perannya. Ada pasangan yang selalu bertengkar dan bertolak belakang jauh namun ternyata mereka bisa saling mengisi dalam cinta. Mungkin karena gue dan Awan terlalu banyak kesamaan hingga akhirnya kita cuma bisa jalan beriringan bukan berdampingan” Vania menatap Langit
“Jadi mau sampai kapan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini lo pertahanin?” Langit tersenyum 
“Sampai nanti saatnya ada orang lain yang mampu menyambut cinta ini. Yang membuat gue ga bertepuk sebelah tangan tapi dengan yakin membuat gue menggenggam erat tangannya” Vania menggelengkan kepalanya. 
“Ada ya orang yang tulus banget kayak lo gini?
“Langit ayo pulang” ujar Awan sambil merapikan tasnya Udah kelar futsalnya?” tanya Langit
“Udah, yuk balik” Awan menggandeng tangan Langit
“Duluan ya Van” pamitnya pada Vania. Vania mengangguk dan melambaikan tangannya
“Hati-hati” ujarnya...
Ujian semester ganjil akhirnya selesai. Para murid SMU Cahaya saat ini sedang menikmati waktu kosong mereka dikelas sebelum nantinya akan bertempur melewati Ujian Nasional. Langit mencari Awan kemana-mana kantin perpustakaan, lab biologi, lab kimia namun ia masih belum melihat batang hidung Awan sekalipun. Sejak pagi ia belum melihat Awan namun berdasarkan papan absensi, Awan hadir pada hari ini. Langit mencari ke taman
belakang sekolah and finally ia menemukan Awan sedang duduk
termenung di salah satu bangku disana. Ia segera menghampirinya
“Lo kenapa sendirian aja disini? Gabung aja yuk di kelas” ujar Langit Awan menatap langit sejenak, kemudian ia memeluknya. Deg seketika itu pula seluruh syaraf dalam tubuh Langit seakan berhenti. Ia menahan nafasnya. Mengatur degup jantungnya agar Awan tidak menyadari betapa tak beraturannya detak jantungnya saat ini
“Cherein mutusin gue” ujar Awan Langit melemaskan tubuhnya. Perasaan tegang tadi kini berganti dengan perasaan yang seperti biasa ia rasakan tiap kali ia mendengar nama itu. Perasaan sakit yang menusuk, namun ia sudah biasa merasakan itu. Hingga akhirnya ia menjadi kebal dan mati rasa. Cherein, ya dia adalah kekasih Awan. Langit melepaskan pelukan Awan secara perlahan 
“Emang kalian ada masalah apa?” tanya Langit Awan menggelengkan kepalanya. “Gue juga ga ngerti masalahnya apa. Tiba-tiba dia bilang kita udah ga sejalan lagi dan dia minta putus” Langit mengusap lembut punggung Awan “Coba lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Mungkin dia lagi ada masalah jadi emosinya ga stabil” ujar langit
“Kalo emang dia ada masalah kan dia bisa cerita sama gue. Gue kan pacarnya. Kita juga kan pacaran udah lama. Masih aja ga percaya sama gue” ujar Awan setengah emosi Langit menarik nafasnya dalam-dalam. ‘Gue tau lo   pacaran udah lama dan selama itu juga hati gue teriris’ gumamnya dalam hati. Tapi memang dasar sifat wanita, Langit hanya bisa memendamnya dalam-dalam. Membiarkan rasa itu terus menyakiti dirinya.
“Awan, mungkin hubungan kalian ini lagi diuji. Lo jangan kebawa emosi. Lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Kalo emang nanti hasilnya kalian harus tetep pisah ya seenggaknya kan kalian bisa pisah baik-baik
”Awan menatap Langit “Lo tau ga? Kadang gue berharap Cherein itu punya sifat kayak lo. Dewasa, pengertian dan selalu berterus terang tiap kali ada masalah. Kadang gue berfikir ‘kenapa gue ga pacaran sama lo aja ya?’ tapi seketika itu juga cinta gue ke Cherein menjawabnya. Bagaimanapun Cherein menyakiti gue, gue akan selalu jatuh cinta lagi sama dia” Langit tertegun. Dari berbagai macam sayatan yang ia terima setiap kali Awan bercerita tentang Cherein. Inilah sayatan yang paling dalam dan paling perih. Tangan Langit bergetar hebat. Mati-matian ia menahan
tangisnya
"Setiap orang punya sifat beda-beda. Gue duluan ya. Lo jangan lama-lama disini. Cepet balik ke kelas yaa” tanpa menoleh lagi Langit segera beranjak meninggalkan Awan. Langit mengurung dirinya di dalam toilet. 
“Kalo emang gue lebih baik dari dia kenapa lo masih tetap bertahan dengannya?” jeritnya dalam hati. Tangisnya semakin pecah
“Ternyata kita sama. Rela menyakiti diri
sendiri demi orang yang kita cinta”. Langit mengambil ponselnya mengamati
sosoknya dan Awan yang sedang tersenyum dalam layar itu. Perlahan ia
menekan tombol delete dan yap foto itu pun dihapus oleh Langit.
“Satu hal yang pasti, persahabatan kita akan terus berjalan. Lo gapernah menyakiti gue, gue sendiri yang membuat diri gue tersakiti. Nyatanya cinta ini memang tak ditakdirkan untuk bersambut olehmu. Nyatanya aku memang hanya cinta sendiri, hanya bertepuk sebelah tangan” Langit menghapus air matanya. Kemudian ia keluar dari dalam toilet. Langkah kakinya menuju ke lapangan. Ia mendongakkan kepalanya menatap ‘langit’ diatas. Saat itu ‘langit’ tampak cerah tanpa ada 'awan’ yang menghalangi. ‘Langit’ memancarkan warna biru terangnya. Perlahan Langit menyunggingkan senyumnya. 
“Sekarang ga ada alasan tertutup bayang ‘awan’ lagi karena ‘langit’ diatas pun udah cerah" Sejak saat itu Langit menyibukkan dirinya dengan membedah soal Ujian Nasonal. Ia terus belajar dan berjuang demi kelulusannya. Hingga
akhirnya kini hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari pengumuman kelulusan. Langit terkejut saat namanya dipanggil dari atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai ‘Siswi Peraih Nilai Tertinggi dalam Ujian Nasional’. Nilai yang diperoleh Langit nyaris sempurna. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Dari atas panggung ia bisa melihat Awan tersenyum ke arahnya. Tanpa ragu Langit pun membalas senyuman itu. Saat ini akhirnya ia tak lagi merasakan sesak saat melihat Awan
“Selamat ya. Lo emang hebat” ujar Awan setelah Langit selesai menerima penghargaan.
“Thanks. Lo juga hebat kok” jawab Langit
“Lo mau lanjut kuliah dimana?” tanya Awan
“Gue dapat beasiswa 100% di salah satu Universitas di Bandung. Gue rasa gue akan ambil peluang itu deh” ujar Langit
Awan menghela nafasnya kemudian merangkul Langit “Jadi lo mau ninggalin gue nih?”
Langit tersenyum. Kemudian ia menunjuk ke atas “Gue ga akan pernah ninggalin lo kok. Kalo lo kangen sama gue, lo cukup lihat ke atas. Maka saat itu juga gue sedang melihat lo”. Awan kemudian mendengakkan kepalanya menatap ‘langit’ biru di atasnya, sementara itu langit menatap awan ‘Sampai jumpa lagi jika Tuhan mengizinkan’ ujar Langit dalam hati
“Lo yang semangat ya disana. Nanti gue bakal main deh kesana buat nyemangatin lo kalau lo lagi galau” ujar Awan. Langit mengangguk dan tersenyum kecil
“Lo sendiri lanjut kuliah dimana?” tanya Langit
“Gue kuliah di Jakarta aja kok. Kayaknya sih mau satu kampus sama Cherein” jawab Awan
“Cherein?” tanya Langit. Anehnya saat ini ia sudah tidak merasakan sakit lagi ketika mendengar nama itu “Jadi kalian udah baikan?”
Awan mengangguk “Udah cukup lama. Gue mau cerita sama lo tapi lo nya sibuk terus” Awan mencubit pipi Langit Langit meringis 
“Duh maaf deh yaa. Langgeng ya kalian” ujarnya Handphone Awan berdering tanda panggilan masuk “Dari Cherein,
gue angkat bentar ya” ujarnya. Langit mengangguk. Awan pun kemudian
meninggalkan Langit Sesaat setelah Awan pergi, Vania menghampiri Langit. “Jadi udah move on nih?” godanya
“Aduhh lo itu ya Van, belom kok. Gue masih cinta sama Awan” jawab Langit
“Kok sekarang senyam-senyum sih liat Awan pergi sambil nelepon?
Itu pasti telepon dari pacarnya kan?”
“Hmm.. iya itu telepon dari pacarnya. Yaahh… pada akhirnya ‘awan’ akan tetap berjalan mengikuti arah ‘angin’ kan? ‘Awan’ akan tetap mengikuti kemana pun ‘angin’ berhembus. Sebagai ‘langit’ gue emang cuma bisa memperhatikan mereka aja. ‘Awan’ yang tadinya menutupi ‘langit’ kini udah beranjak bersama hembusan ‘angin’. Ya, gue cuma bisa memperhatikan mereka dari kejauhan aja. Cinta yang cuma sepihak ini emang sudah saatnya tutup cerita” tutur Langit Vania merangkul Langit 
“Lo tenang aja ya, di ‘langit’ ga cuma ada
‘awan’ kok. Ada matahari, pelangi. Dan apalagi saat ‘langit’ gelap, kita bisa
melihat bintang yang bercahaya kerlap-kerlip atau bulan yang senantiasa
menemani ‘langit’ saat gelap. Lo pasti akan menemukan salah satu diantara
itu. Yang bisa menjadi pendamping setia lo” Langit tersenyum lega, kemudian ia menatap langit biru yang ada di atasnya “Iya Van lo bener. Akan ada saatnya langit punya pendamping”

Komentar : Cerpen temen cerpen bagus kreatif banget  semoga kedepannya bisa bikin cerpen yang lebih lebih lagi dari ini sukses semoga tulisannya bisa dibaca banyak orang.
Kesimpulan : Dari cerpen ini adalah "Karna cinta gak harus memiliki melihat seseorang yang kita cintai bahagia sama yang lain kita juga ikut bahagia"

Sumber : kuntygalau.blogspot.com

Kamis, 20 November 2014

IBD Tulisan Bebas Novel Laskar Pelangi

Sinopsis Novel Laskar Pelangi
Penulis:Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Pertama terbit: 2005
Jumlah Halaman: 529
Novel berjudul Laskar Pelangi ini adalah novel pertama dari serangkaian tetralogi milik Andrea Hirata.
Buku lanjutan Laskar Pelangi ini, berturut-turut adalah Sang Pemimpi, Endesor. serta Maryamah Karpov. Laskar Pelangi sendiri telah menjadi buku sastra terlaris sepanjang sejarah perbukuan di Indonesia.
Dan perkembangan terakhirnya, novel apik ini telah diterbitkan di
berbagai benua dalam berbagai bahasa.
Apa yang menarik dari novel Laskar Pelangi ini?
Secara garis bersar, novel ini bercerita kehidupan kanak-kanak beberapa bocah di Belitong. Andrea Hirata memulainya dengan kisah miris dunia pendidikan di Indonesia dimana sebuah sekolah yang keurangan murid hendak ditutup. Sekolah tersebut adalah SD Muhammadiyah di Gantung Belitung Timur. Namun, karena murid yang terdaftar genap 10, sekolah dengan bangunan seadanya tersebut tetap diijinkan beraktifitas seperti biasanya. Ke- sepuluh murid tersebut adalah para laskar pelangi. Nama yang diberikan guru mereka bernama Bu Mus, oleh karena kegemaran mereka terhadap pelangi.
Siapa saja mereka? Tokoh dalam novel ini adalah Ikal, Lintang,
Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan juga Harun. Mereka adalah sahabat yang kisahnya memesona dunia lewat tangan dingin sang penulis. Buku laskar pelangi bercerita keseharian mereka di sekolah dan di lingkungan sosial. Mereka adalah anak-anak desa dengan tekad luar biasa. Perjalanan mereka dipenuhi kejadian yang tak terduga. Secara perlahan mereka menemukan keunggulan di dalam diri dan persahabatan. Ini mungkin yang menjadi titik fokus Andrea Hirata. Ia juga piawai menyisip komedi dalam kisah ini.
Sudut pandang bercerita dalam novel ini menggunakan orang pertama yakni “aku”. Aku sendiri adalah si Ikal. Ia anak yang pandai meski berada di urutan kedua setelah Lintang, bocah terpandai di dalam kelas mereka. Si Ikal ini menaruh minat yang besar pada sastra. Hal ini terlihat dari kegemarannya menulis puisi. Lain lagi dengan tokoh Lintang. Ia sigambarkan sebagai anak yang sangat jenius. Orangtuanya seorang nelayan, yang miskin dan hanya tidak memiliki perahu. Mereka memiliki keluarga dalam jumlah yang melimpah, 14 kepala. Lintang sangat suka matematika. Namun, cita-citanya menjadi seorang ahli matematika harus terpangkas dengan tuntutan membantu orangtua menafkahi keluarga. Terlebih saat ayahnya meninggal. Tokoh lainnya adalah Sahara. Ia merupakan anak perempuan satu-satunya dalam cerita ini. Ia berpendirian kuat dan cenderung keras kepala. Sementara itu, Mahar, ia digambarkan bertubuh ceking dan mencintai seni. Ia suka menyanyi dan gemar pada okultisme. Tokoh berikutnya adalah A kiong. Dari namanya sangat jelas kalau ia merupakan keturunan Tionghoa. Ia sangat menyukai Mahar dan mengikutinya kemanapun. Ia digambarkan tak rupawan tetapi hatinya “tampan”. Lanjut ke Syahdan. Perangainya ceria meski ia tak pernah menonjol dalam kelas. Sementara itu Kucai, adalah tokoh dalam cerita yang didaulat menjadi ketua kelas. Ia digambarkan menderita penyakit rabun jauh sebab ia kekurangan gizi. Borek, Trapani dan Harun adalah anggota laskar` pelangi yang terakhir. Borek digambarkan sebagai anak yang terobsesi dengan otot. Ia ingin menjadi lelaki yang paling macho. Trapani, ia tampan dan pandai. Ia lengket dengan sang ibu. Terakhir, Harun. Ia istimewa sebab ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia mengalami keterbelakangan mental. Namun menurut beberapa orang, tokoh Harun ini digambarkan dengan cukup manis sehingga banyak yang jatuh cinta pada sosoknya. 
Komentar : Novel Laskar Pelangi adalah novel yang sangat bagus dan sangat memberi semangat terutama bagi pelajar-pelajar Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya cukup menarik dan cukup lengkap yang dibutuhkan oleh pelajar saat ini. Para pelajar harus meniru semangat yang dimiliki oleh beberapa tokoh di novel Laskar Pelangi ini.

Kamis, 13 November 2014

IBD Tulisan Bebas Resep Brownies Kukus Pandan Coklat

-Resep Brownies Kukus Pandan Coklat-
Kue yang lezat untuk sajian bersama keluarga yaitu Brownies Pandan Coklat.
Cara membuatnya pun mudah dan
bahan yang dibutuhkan juga mudah
untuk didapatkan. Berikut ini bahan dan cara membuatnya yang kami sajikan untuk anda semua yang gemar dengan Brownies.
Bahan – bahan resep Brownies Kukus Pandan Coklat :
6 kuning telur
3 putih telur
200 gram gula pasir
100 gram tepung terigu protein sedang , ayak
100 gram Dark Cooking Coklat (DCC) , lelehkan
175 ml minyak
1 sdt cake emulsifier
1/2 sdt vanili bubuk
1 sdt pasta pandan pasta cokelat
Garam secukupnya
Cara Membuat Resep Brownies Kukus
Pandan Coklat :
1. Kocok telur , gula pasir dan cake emulsifier sampai mengembang .
2. Masukkan tepung terigu , garam dan vanilli, aduk hingga rata
3. Setelah itu , tambahkan minyak dan aduk sampai rata
4. Bagi menjadi 2 adonan. Tambahkan Dark Cooking Cokelat pada satu adonan dan pasta pandan
untuk adonan yang satunya .
5. Masukkan adonan coklat terlebih dahulu ke Loyang yang telah diolesi mentega dan kukus selama 10 menit. Olesi tipis pasta cokelat
6. Setelah itu , masukkan adonan pandan dan kukus lagi selama 20 menit
7. Angkat brownies dan tunggu hingga dingin lalu potong- potong sesuai selera.
Kini Anda bisa membuat sendiri resep brownies kukus pandan cokelat di rumah. Dengan bahan dan cara pembuatan yang praktis , Anda bisa menyajikan kue lezat untuk keluarga. Brownies kukus pandan cokelat ini cocok disajikan dengan teh manis hangat.
Selamat mencoba di rumah :)

IBD Tulisan Bebas Resensi Novel Siti Nurbaya

        Resensi Novel Siti Nurbaya
Resensi Novel “ Siti Nurbaya ” ( Kasih Tak Sampai ) Karya Marah Rusli
Judul Buku : Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai )
Pengarang : Marah Rusli
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1992
Jenis Media : Cetak ( Kulit Keras & Lunak )
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal : 271 Halaman
Tokoh : Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman, Dan Sultan Mahmud
Sinopsis
Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih. Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak
sanggup membayar hutang hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih. Menghadapi kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgih. Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan. Samsulbahri yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya. Pada suatu hari ketika Samsulbahri dalam liburan kembali ke Padang, ia dapat bertemu empat mata dengan Siti Nurbaya yang telah resmi menjadi istri Datuk Maringgih. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi keributan. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya yang tengah terbaring karena sakit keras. Baginda Sulaiman berusaha bangkit, tetapi akhirnya jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir. Mendengar itu, ayah Samsulbahri, yaitu Sultan Mahmud yang kebetulan menjadi penghulu kota Padang, malu atas perbuatan anaknya. Sehingga Samsulbahri harus kembali ke Jakarta dan ia berjanji untuk tidak kembali lagi kepada keluargannya di Padang. Datuk Maringgih juga tidak tinggal diam, karena Siti Nurbaya diusirnya. Siti Nurbaya yang mendengar bahwa kekasihnya diusir orang tuanya, timbul niatnya untuk pergi menyusul Samsulbahri ke Jakarta. Tetapi niatnya itu diketahui oleh kaki tangan Datuk Maringih. Karena itu dengan siasat dan fitnahnya, Datuk Maringgih dengan bantuan kaki tangannya dapat memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantaraan polisi. Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal
dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsulbahri sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diri. Akan tetapi mujurlah karena ia tak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer. Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan dikota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia sempat membacok kepala Samsulbahri dengan parangnya. Samsulbahri alias Letnan Mas segera dilarikan
ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum Samsulbahri sempat bertemu dengan
orangtuanya. Sekilas tentang penulis dan bukunya Buku ini diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahu 1922. Buku yang berjudul Siti Nurbaya ini berhasil menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain yang dianggap orang sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Modern. Penilaian itu tidak didasarkan pada temanya, tetapi berdasarkan pemakaian bahasa dan gayanya yang tersendiri. Buku ini menggunakan bahasa melayu. Oleh karena itu, orang melayu pasti akan lebih mudah membaca dan segera mengerti isinya. Karena terkenalnya sampai-sampai zaman itu dinamai zaman Siti Nurbaya. Roman karyanya ini berhasil pula merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra, yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969. Dalam karyanya berjudul Siti Nurbaya, Marah Rusli ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Pelaku utamanya pada roman ini adalah Siti Nurbaya, Samsulbahri, dan Datuk Maringgih. Membaca roman Siti Nurbaya kita diajak mengikuti liku-liku kehidupan masyarakat Padang pada masa itu, khususnya kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia, Siti Nurbaya dan Samsulbahri Pengarang, dalam hal ini Marah Rusli sebagai pemuda terpelajar memiliki pemikiran jauh lebih maju daripada masyarakat disekitarnya. Ia telah mengenal tata cara hidup dan kebudayaan asing yang sedikit banyak sangat berpengaruh terhadap jiwanya. Dari dasar itu timbul gejolak pemberontak ingin menerobos adat lama yang mengungkung dengan ketat dan dianggap oleh Marah Rusli sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi. Marah Rusli ini lahir di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung pada tanggal 17 Januari 1968. Pengarang ini telah menamatkan SD di Padang pada tahun 1904 dan
menamatkan Sekolah Raja (Hoofdenscool) di Bukit Tinggi pada tahun 1910. Setelah tamat Sekolah Dokter Hewan di Bogor pada tahun 1915, ia diangkat menjadi adjunct dokter hewan di Sumbawa Besar, kemudian (1916) menjabat Kepala perhewanan di Bima. Tahun 1918 pindah menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung, kemudian mengepalai daerah perhewanan di Cirebon. Tahun 1919 menjabat kepala daerah perhewanan di Blitar, tahun 1920 menjadi asisten leraar Kedokteran Hewan Bogor, tahun 1921 menjadi dokter hewan di Jakarta, tahun 1925 pindah ke Tapanuli. Sejak tahun 1929 sampai datang revolusi 1945 menjadi dokter hewan kotapraja Semarang. Selama
revolusi tinggal di Solo, kemudian bekerja pada ALRI di Tegal. Tahun 1948 diangkat menjadi lektor di Fakultas Dokter Hewan Klaten dan dalam tahun 1950 kembali ke Semarang. Sejak tahun 1951 menjalani masa pensiun di Bogor, tetapi masih tetap menyumbangkan tenaganya di Balai Penelitian Ternak Bogor sampai akhir hayatnya. Di samping profesinya sebagai dokter hewan, Marah Rusli terkenal pula sebagai sastrawan karena romannya yang berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai).
Nilai Didalamnya : Pengarang mengajak kita untuk memetik beberapa nilai moral dari romannya yang terkenal ini, antara lain: Bila asmara melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya cinta. Demikianlah cinta yang murni tak akan padam sampai mati. Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya. Bagaimanapun juga praktek lintah darat merupakan sumber malapetaka bagi kehidupan
keluarga. Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan yang tak
terhingga. Dan kebenaran sesungguhnya di atas segala-galanya. Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup.
Keunggulan Buku Ini (Siti Nurbaya)
Komposisi ceritanya layak diterima dan masuk akan dan tidak membahas kawin paksa saja
tetapi mengungkap secara objektif yaitu soal jemputan adat yang kuat dalam perdagangan dan soal kehidupan.
Kelemahan Buku Ini (Siti Nurbaya)
Pengarangnya terlalu mudah untuk membunuh pelaku-pelaku di dalam cerita dan dialog satu pelaku terlalu panjang sehingga pelaku yang lain diam tidak kebagian cerita. Hal yang seperti itu tidak mungkin ada di kehidupan masyarakat. Hal-hal lain memberikan kesan pertentangan antara kaum kolot yang masih mempertahankan adat dan kaum muda yang ingin merombak adat.
Menurut Bakri Siregar diksi dalam Sitti Nurbaya tidak mencerminkan gaya bahasa Marah Rusli sendiri, melainkan bahasa Melayu dengan "gaya Balai Pustaka", yang diwajibkan penerbit itu. Akibatnya, gaya Rusli yang dipengaruhi sastra lisan itu, yang sering mengabaikan perkembangan alur untuk menjelaskan sesuatu "menurut kesenangan dan selera hati, dianggap kurang.
Bahasa yang digunakan : Bahasa melayu yang fasih dan sesuai dengan zaman pada waktu itu.
Unsur Intrinsik yang menonjol dari novel tersebut.
1. Penokohan (Watak Tokoh)
Sitti Nurbaya
Lemah lembut, penurut, anak yang berbakti. Sitti Nurbaya adalah salah satu protagonis utama. Menurut penulis cerpen dan kritikus sastra Indonesia "Muhammad Balfas", Nurbaya merupakan tokoh yang dapat mengambil keputusan sendiri,
sebagaimana terwujud ketika dia memutuskan untuk menikah Datuk Meringgih ketika Meringgih mengancam ayahnya, kesediaannya untuk mendorong Samsul, dan pelariannya dari Meringgih setelah ayahnya meninggal. Dia juga cukup mandiri untuk pergi ke Batavia sendiri untuk mencari Samsul. Tindakannya dianggap melanggar Adat" adat, dan ini akhirnya membuat dia diracuni. Kecantikannya, sehingga disebut "bunga Padang", dianggap sebagai wujud fisik dari hatinya yang baik dan beradab.
Samsul bahri
Samsul bahri adalah protagonis pria utama. Dia dinyatakan sebagai orang yang berkulit kuning Langsat" langsat, dengan mata sehitam tinta namun, dari jauh, dia dapat dikira orang Belanda. Sifat fisik ini dijelaskan oleh Keith Foulcher, seorang dosen bahasa dan sastra Indonesia Indonesia Universitas Sydney, sebagai wujud sifatnya yang suka menjadi seperti orang Belanda. Penampilannya yang menarik juga dianggap sebagai wujud sifatnya yang baik dan beradab.
Datuk Meringgih
Egois, pendendam, iri dengki.
Datuk Meringgih adalah antagonis utama dari novel. Dia seorang pedagang yang dibesarkan di
keluarga yang miskin, lalu menjadi kaya setelah masuk ke dunia kriminal. Balfas menyatakan bahwa dorongan utama Meringgih dalam cerita ialah rasa iri dan keserakahan, sebab dia tidak dapat "menerima bahwa ada yang lebih kaya daripada dia". Balfas beranggapan bahwa Meringgih adalah tokoh yang "digambarkan dengan hitam dan putih, tetapi mampu untuk menyebabkan konflik di sekitarnya". Menjelang akhir novel, Meringgih menjadi "pejuang pasukan anti-kolonialis", didorong oleh keserakahannya menurut Foulcher, gerakan anti-kolonialis ini kemungkinan besar bukanlah usaha untuk memasukkan komentar anti-Belanda.
Baginda Sulaiman.
Baginda Sulaiman : Penyanyang
Sultan Mahmud Syah Sebagai pelaku tambahan (Tokoh Protagonis),
Ayahnya Samsul Bahri yang berwatak: Bijaksana, sopan, ramah, adil, penyayang.
2. Amanat
Pesan utama dari novel disampaikan dengan dialog panjang antara tokoh-tokoh dengan dikotomi moral, untuk menunjukkan alternatif dari pendirian penulis dan, dengan demikian, "menunjukkan alasan yang jelas mengapa penulis itu benar". Namun, pandangan yang "benar" (punya penulis) ditunjukkan dengan kedudukan sosial dan moral tokoh yang mengajukan pandangan tersebut.
Cinta itu tidak dapat dipaksakan. Cinta itu tidak dapat dikekang. Kita tidak bisa memelihara cinta dalam ruang yang terbatas, karena hakikatnya cinta itu bebas.
• Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya.
• Bila asmara melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya cinta. Demikianlah cinta yang murni tak akan padam sampai mati.
● Bagaimanapun juga praktek lintah darat merupakan sumber malapetaka bagi kehidupan keluarga.
• Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga
mungkin berakibat penyesalan yang tak terhingga.
• Dan kebenaran sesungguhnya di
atas segala-galanya.
• Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup.
3.Tema
Sitti Nurbaya cenderung dianggap mempunyai tema anti-pernikahan paksa, atau menjelaskan perselisihan antara nilai Timur dan Barat. Novel ini juga pernah dinyatakan sebagai suatu "monumen perjuangan pemuda-pemudi yang berpikiran panjang" melawan adat. Namun, menurut Balfas tidaklah adil apabila Sitti Nurbaya dianggap hanya sebuah cerita tentang kawin paksa, sebab hubungan antara Nurbaya dan Samsul dapat diterima masyarakat. Dia menegaskan bahwa novel ini merupakan perbandingan pandangan Barat dan tradisional terhadap pernikahan, yang dilengkapi dengan Poligami
4. Alur : Maju
Cerita novel “Siti Nurbaya” ini ceritanya benar- benar dimulai dari eksposisi, komplikasi, klimaks,
benar dan berakhir dengan pemecahan masalah. Pengarang menyajikan ceritanya secara terurut
atau secara alamiah. Artinya urutan waktu yang urut dari peristiwa A,B,C,D dan seterusnya.
5. Latar( Setting)
Waktu : Pagi, Siang, Petang
Suasana : Sedih, Gembira, Tertekan
Tempat : Di kediaman Baginda Sulaiman, di toko Baginda Sulaiman, kediaman Datuk Maringgih, Di kediaman samsul Bahri, Di bawah pohon, dsb.
6. Sudut Pandang.
Sudut pandang yag digunakan oleh pengarang movel “Siti Nurbaya” ini yaitu sudut pandang dia mahatahu. Pengarang berada di luar cerita hanya menjadi seorang pengamat yang maha tahu dan bahkan mampu berdialog langsung dengan pembaca.
Unsur Ekstrinsik yang Menonjol
B. Unsur Ekstrinsik
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
Keadaan Subjektivitas: pengarang berusaha melakukan inovasi baru, dengan menggebrak Sastra Indonesia Modern dengan meluncurkan novel ini dengan gaya bahasa sendiri.
Pandangan hidup penulis adalah pandangan hidup ke depan dan penuh inovasi baru. Dan juga tak terpaut juga terkekang dengan adat istiadat lama.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya)
 Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan adat istiadat lama, dan melakukan terobosan
dengan mengarang buku novel, “Siti Nurbaya”.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial. Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam kehidupan adat istiadat yang masih kuno, baik dari segi ekonomi, politik dan sosialnya. Lalu pengarang berusaha membuat terobosan baru dengan karyanya.
4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.
Pandangan yang terjadi: pada saat itu pandangan karya seni cenderung monoton, dan gaya bahasanya hanya itu saja, jadi Marah Rusli membuat gebrakan dengan memunculkan gaya bahasa Melayu.
Kesimpulan :
Dari gambaran novel Siti Nurbaya yang secara rinci telah memberikan sebuah pengalaman yang sangat penting terhadap kehidupan sosial, karena kisah tersebut menggambarkan nilai-nilai, baik nilai sosial, nilai kebudayaan , nilai agama maupun nilai pendidikan. Sebagaimana telah kita ketahui
tentang sikap-sikap yang telah dilakukan oleh para tokoh, ada sikap-sikap yang perlu kita contoh seperti samsul bahri dan sikap yang tidak perlu dicontoh adalah Datuk Maringgih yang selalu meresahkan orang lain. Berkali-kali buku Siti Nurbaya dibaca, berkali-kali pula ditemukan keindahan yang berbeda, berkali- kali ditemukan misteri yang tak sama . Novel ini menggambarkan tentang cinta yang indah. Tentang patriotisme. Dan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada setiap zaman, secara garis besar novel ini menggambarkan sebuah percintaan yang tidak sampai pada
tujuan , walaupun begitu kesetiaan tetap ada.

Rabu, 12 November 2014

Tugas IBD Resensi Novel Layla Majnun

Kelompok 3
Nama Kelompok :
Aji Yeprianto
Farhan Ramadhan
Nurbani Hawa
Retno Widiastuti
Rizki Muzdalifah
Wahyu Gesang
Kelas : 1EA05
 RESENSI NOVEL LAYLA MAJNUN
Judul : Layla Majnun; Pengantin Abadi dari Surga
Pengarang : Nizami
Penerbit : Kayla Pustaka
Tahun  : 2009
Genre  : Novel Sastra
Tebal   : 236 Halaman
ISBN.   : 978-979-17997-2-0
Layla Majnun, sebuah roman cinta yang telah melegenda di seluruh dunia. Roman yang diilhami dari kisah nyata. Nizami Ganjavi mengumpulkan cerita cinta Qays dan Layla pada tahun 1188. Cerita tentang Layla Majnun ini awalnya adalah cerita mulut-kemulut sepeninggal kedua pecinta itu, maka dari itu banyak versi cerita Layla Majnun yang beredar dan hanya Syaikh Nizami yang berhasil mengumpulkan dan membuat roman yang sangat terkenal di dunia.
Novel karya Nizami Ganjavi ini mempunyai cara penyampaian yang sangat unik membuat orang yang membacanya seakan kembali ke jaman Persia dulu. Nizami Ganjavi menggunakan syair dalam novelnya Banyak sekali syair-syair yang membuat orang-orang terpana karena keindahan syairnya, yang membuat kita sadar akan kekuatan cinta yang membuat kita lupa diri, ketulusan cinta yang mengalahkan segalanya. Cerita Layla Majnun ini dimulai ketika Seorang Kabilah bani Amir yang ingin mempunyai seorang anak, dan akhirnya lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan bernama Qays. Qays menjadi seorang pemuda tampan yang disenangi temannya. Suatu saat dia menjalin hubungan dengan seorang gadis bani Qhatibiah yang bernama Layla. Orang tua Layla tidak suka anaknya menjalin hubungan gelap dengan Qays dan kemudain mereka dipisahkan. Majnun menjadi putus asa dan menjadi gila dan mempunyai julukan “Majnun” si gila. Beberapa kali ia sudah ingin bertemu dengan Layla tetapi usahanya selalu gagal. Akhirnya Layla menikah dengan orang lain yang membuat Qays terpukul. Walaupun Layla telah menikah, Layla tetap mencintai Qays sampai akhirnya suami Layla meninggal. Setelah Suaminya meninggal Qays sudah siap untuk menyatukan cinta mereka, tetapi apa daya, Qays sudah gila, ia kemudian meninggalkan Layla. Tidak lama setelah itu Layla meninggal disusul dengan Qays yang meninggal diatas kuburan Layla.
Banyak amanat yang bisa dipetik dari novel ini. Novel ini mengajarkan bahwa cinta itu selalu ada membuat kita hidup, cinta adalah sumber kehidupan, dan percayalah pada kekuatan cinta.
Hal yang menarik dalam cerita ini adalah bagaimana pengarangnya menceritakan alurnya. Alurnya sangat enak untuk dinikmati. Penulis sangat memberikan atmosfer cinta yang begitu kental kedalam novel ini. Banyaknya syair-syair cinta buatan Qays juga membuat novel ini hidup, dengan syair arab yang begitu kental dan sangat mudah untuk diserapi.
sumber : http://nhuryadhy.wordpress.com/2012/11/21/resensi-novel-layla-majnun/

Minggu, 19 Oktober 2014

IBD Tulisan Bebas Kata Mutiara



Tulisan Bebas Kata Mutiara
Karya : Nurbani Hawa                                                        Npm : 18214201

Kata Mutiara :

Perkataan yang selalu saya ingat di dalam hati dan kepala, daun jatuh pun sudah diatur oleh Allah apalagi kenyataan yang dihadapi manusia, keinginan yang dimiliki manusia, perjumpaan dengan orang-orang tertentu, perasaan yang begitu tidak menentu, semangat yang turun naik, serta percapaian dan cita-cita. Allah selalu punya maksud dibalik itu semua “No Coincidence Happens In This World Everything Happens For A Reason”
                                                     

IBD Tulisan Bebas Pantun



Tulisan Bebas Pantun Pendidikan
Karya : Nurbani Hawa
Npm : 18214201             

 Pantun Pendidikan

Jika pergi ke padang datar
Jangan lupa berlabuh
Jika kita ingin pintar
Belajarlah dengan sungguh – sungguh
                       
    Anak ayam turun delapan
                        Mati satu tinggal lah tujuh
                        Hidup harus penuh harapan
                        Jadilah itu jalan yang dituju

Tikus berlari kucing mengejar
Berebut ikan di meja makan
Tingkatkan lah prestasi dengan belajar
Agar jaya di masa depan

Komentar : Pantun pendidikan merupakan sebuah pantun yang memiliki tema pendidikan, tidaklah harus bertema sekolah intinya adalah memberikan pengertian kepada pembaca bahwa jika “belajar dengan sungguh-sungguh akan menjadikan hidup lebih baik".